Perkuat Branding dan Pemasaran Digital: KKN-T 84 Undip Bantu UMKM Pelet Limbah Ampas Kedelai Desa Gebugan Jangkau Konsumen Lebih Luas

Mahasiswa KKN-T 84 Desa Gebugan Universitas Diponegoro memberikan pendampingan branding dan pemasaran digital kepada pelaku UMKM pelet berbahan limbah kedelai di Dusun Bengkle, Desa Gebugan, melalui pembuatan logo, kemasan, dan optimalisasi marketplace, pada Minggu (9/8/2026).

SEMARANG — Setiap hari, proses produksi Sun Soya, produk susu kedelai milik Pak Taryono di Dusun Bengkle, Desa Gebugan, menghasilkan sisa ampas kedelai yang jumlahnya tidak sedikit. Namun, sisa produksi tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Limbah ampas kedelai dimanfaatkan kembali oleh Pak Taryono sebagai bahan pakan ternak yang kemudian dikembangkan menjadi produk pelet bernama Sun Grow.

Melihat potensi tersebut, KKN-T 84 Desa Gebugan Universitas Diponegoro memberikan pendampingan melalui program “Pendampingan Digitalisasi UMKM: Pembuatan Logo, Kemasan, dan Optimalisasi Pemasaran Produk Pelet Limbah Kedelai via Marketplace” pada Minggu (9/8/2026). Program ini digagas oleh Thalita Prabha Nandika, mahasiswa Program Studi Manajemen, sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan usaha masyarakat melalui pemanfaatan potensi yang sudah tersedia di lingkungan sekitar. Gagasan program berawal dari survei yang dilakukan mahasiswa terhadap kondisi usaha Pak Taryono dan produk yang dihasilkan. Dari hasil survei tersebut, mahasiswa melihat bahwa produksi Sun Soya tidak hanya menghasilkan susu kedelai sebagai produk utama, tetapi juga menyisakan ampas atau limbah kedelai secara rutin. Sisa produksi tersebut kemudian dimanfaatkan kembali sebagai bahan pakan ternak dan dikembangkan menjadi Sun Grow, produk bahan pakan ternak alami yang terbuat dari limbah susu kedelai.

Produk pelet berbahan limbah ampas kedelai yang dihasilkan dari sisa produksi susu kedelai milik pak Taryono, di Desa Gebugan.

Potensi inilah yang kemudian dikembangkan melalui pendampingan pada sisi pemasaran. Sebab, produk yang sudah memiliki keunikan dari bahan bakunya juga membutuhkan identitas yang dapat membuatnya lebih mudah dikenali oleh masyarakat. Mahasiswa kemudian membantu membuat logo dan desain kemasan agar produk terlihat lebih rapi, menarik, dan memiliki ciri khas. Bagi pelaku usaha, kehadiran identitas produk menjadi langkah baru dalam memperkenalkan pelet yang selama ini dihasilkan dari pemanfaatan limbah kedelai. Kemasan juga disusun agar informasi mengenai produk dapat disampaikan dengan lebih jelas sehingga calon konsumen tidak hanya melihat produk dari tampilannya, tetapi juga memahami apa yang ditawarkan. Pendampingan kemudian berlanjut ke pemasaran digital. Mahasiswa membantu membuat akun Shopee sekaligus mengenalkan pentingnya digital marketing dalam mengembangkan usaha. Melalui marketplace, produk pelet diharapkan dapat diperkenalkan kepada calon konsumen yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan pemasaran dari lingkungan sekitar. Mahasiswa juga mendampingi pelaku usaha dalam membuat deskripsi produk yang lebih informatif dan mudah dipahami. Selain itu, pelaku usaha dikenalkan dengan pembuatan video promosi sederhana untuk memperkenalkan produk secara lebih menarik melalui marketplace.

Keunikan lain dari produk ini terletak pada adanya hasil uji laboratorium pakan dari Dinas Pertanian. Data hasil pengujian tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam menyampaikan informasi mengenai kandungan nutrisi produk. Dengan demikian, informasi yang dicantumkan dalam materi pemasaran dapat disusun berdasarkan data yang tersedia dan tidak sekadar mengandalkan klaim promosi. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, Sun Grow memiliki kandungan protein kasar sebesar 37,94 persen, lemak kasar 23,26 persen, serat kasar 6,69 persen, kadar abu 2,33 persen, dan kadar air 6,80 persen. Kandungan protein yang cukup tinggi menjadi salah satu informasi penting dalam memperkenalkan Sun Grow sebagai produk pakan. Data hasil uji laboratorium tersebut juga dapat digunakan sebagai dasar informasi bagi calon konsumen sehingga kualitas dan kandungan produk dapat disampaikan secara lebih transparan.

Hasil uji laboratorium pakan dari Dinas Pertanian yang memuat informasi kandungan nutrisi produk pelet limbah ampas kedelai sebagai dasar pendukung informasi produk dalam pemasaran.

Pemanfaatan limbah dari produksi susu kedelai menjadi pelet juga membawa cerita yang lebih luas tentang bagaimana sebuah usaha kecil dapat menerapkan prinsip keberlanjutan. Program ini sejalan dengan SDG (Suistaineble Development Goals) Nomor 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, yang salah satunya mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien dan pengurangan limbah. Dalam kegiatan ini, prinsip tersebut terlihat dari bagaimana sisa produksi susu kedelai tidak langsung dibuang, tetapi dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali menjadi produk lain. Dengan cara tersebut, satu proses produksi dapat menghasilkan manfaat lebih dari sekadar produk utamanya. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan justru memperoleh fungsi baru dan berpeluang memberikan tambahan nilai ekonomi. Dari sisi ekonomi, pengolahan limbah menjadi pelet dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk mendapatkan nilai dari hasil samping produksi. Sementara dari sisi lingkungan, pemanfaatan kembali limbah dapat membantu mengurangi jumlah sisa produksi yang terbuang. Potensi tersebut kemudian diperkuat melalui pembuatan logo, kemasan, serta pemasaran melalui marketplace agar produk lebih mudah dikenal dan dijangkau oleh masyarakat luas.

Melalui pendampingan ini, mahasiswa juga membekali pelaku usaha dengan pengetahuan yang dapat diterapkan setelah kegiatan selesai, Pak Taryono selaku pelaku usaha diperkenalkan dengan cara mengelola akun Shopee, membuat deskripsi produk, hingga membuat video promosi sederhana. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu Pak Taryono dalam memasarkan produknya secara lebih mandiri. Program ini menunjukkan bahwa sesuatu yang sederhana di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi peluang baru. Limbah dari produksi susu kedelai yang sebelumnya hanya menjadi sisa kini dapat diolah menjadi pelet dan diperkenalkan dengan cara pemasaran yang lebih modern. Untuk selanjutnya, mahasiswa berharap pendampingan yang telah diberikan dapat terus dimanfaatkan oleh pelaku usaha, terutama dalam mengelola pemasaran digital dan mengembangkan produk pelet. Dengan pemanfaatan limbah yang terus dilakukan dan pemasaran yang semakin luas, produk ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan sekaligus membantu meningkatkan peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Gebugan.

  • Thalita Prabha Nandika
  • Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Diponegoro
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!