Kereta Cepat Jakarta-Bandung “Whoosh” sebagai Perwujudan Perubahan Sosial
Penulis: Muhammad Ilham Fauzi
Mahasiswa Teknik Industri Universitas Airlangga
JATENG.NET, Surabaya — Pada 18 Oktober 2023 lalu, Pemerintah Indonesia mulai mengoperasikan sebuah moda transportasi umum yang keberadaannya sudah banyak ditunggu masyarakat Indonesia, yakni Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau yang dikenal sebagai Whoosh. Adanya Whoosh merupakan bentuk nyata dari suatu perubahan yang membawa keadaan lebih baik juga lebih maju dari pada keadaan sebelumnya.
Whoosh menjadi salah satu pembangunan besar di Indonesia yang dapat menjadi sumbangsih bagi proses perubahan menuju keadaan yang lebih baik yaitu pembangunan infrastruktur. Hadirnya pembangunan Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) membawa serangkaian manfaat yang akan dirasakan oleh berbagai pihak, termasuk bagi masyarakat maupun pemerintah itu sendiri.
Berdasarkan perspektif teori fungsional, hadirnya Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCIC) dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi sistem sosial terhadap kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Teori fungsional melihat perubahan sosial sebagai respons terhadap kebutuhan yang muncul dalam masyarakat yang lebih besar, di mana setiap elemen masyarakat memiliki fungsi tertentu yang saling berhubungan untuk mencapai keseimbangan dan stabilitas.
Dalam hal ini, pembangunan Whoosh merupakan jawaban terhadap kebutuhan akan transportasi yang lebih cepat, efisien, dan dapat diandalkan. Kereta cepat ini tidak hanya menghubungkan Jakarta dan Bandung dengan lebih singkat, tetapi juga memfasilitasi pertumbuhan ekonomi melalui pengurangan waktu perjalanan, peningkatan aksesibilitas, dan pengembangan wilayah di sepanjang rute kereta cepat tersebut.
Dengan demikian, Whoosh tidak hanya meningkatkan mobilitas masyarakat tetapi juga memperkuat struktur ekonomi dan sosial yang ada, menciptakan keseimbangan baru yang lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat modern.
Teori fungsional juga menekankan pentingnya fungsi stabilisasi yang dihadirkan oleh perubahan sosial, di mana setiap inovasi atau intervensi yang dilakukan harus dapat memperkuat tatanan sosial yang ada dan mencegah disfungsi dalam sistem sosial.
Dalam konteks Whoosh, kereta cepat ini diharapkan dapat mengurangi masalah-masalah sosial seperti kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di jalur Jakarta-Bandung, mengurangi polusi akibat penggunaan kendaraan pribadi, dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat dengan menyediakan alternatif transportasi publik yang lebih nyaman dan cepat.
Selain itu, Whoosh juga berperan dalam memperkuat integrasi nasional dengan menghubungkan dua kota besar yang strategis, sehingga menciptakan rasa keterhubungan yang lebih kuat di antara masyarakat. Hal ini sejalan dengan prinsip teori fungsional yang melihat bahwa setiap elemen dalam masyarakat harus berfungsi untuk mempertahankan keteraturan, harmoni, dan keseimbangan sosial secara keseluruhan.
Oleh karena itu, Whoosh tidak hanya menjadi simbol kemajuan teknologi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga sebagai alat penting untuk mencapai stabilitas sosial yang lebih baik dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang terus berkembang.
Menurut Tallcot Parsons, setiap perubahan dalam satu subsistem harus beradaptasi dengan subsistem lain agar dapat menjaga keseimbangan keseluruhan sistem sosial. Dalam hal ini, pembangunan KCIC dapat dilihat sebagai adaptasi dari subsistem transportasi dalam merespons kebutuhan yang terus berkembang di masyarakat, seperti kebutuhan akan mobilitas yang lebih cepat dan efisien.
Parsons menekankan pentingnya fungsi adaptasi dalam sistem sosial, di mana setiap elemen baru, seperti kereta cepat ini, harus berfungsi untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam merespons tantangan-tantangan baru. KCIC tidak hanya meningkatkan mobilitas antara Jakarta dan Bandung, tetapi juga berfungsi sebagai katalisator untuk pertumbuhan ekonomi, memperkuat integrasi nasional, dan mengurangi tekanan pada sistem transportasi jalan raya yang sering mengalami kemacetan.
Dengan memperkenalkan inovasi seperti kereta cepat, sistem sosial Indonesia dapat mempertahankan stabilitas sambil beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dan tuntutan masyarakat modern, yang sejalan dengan konsep fungsi stabilisasi Parsons.
Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh didorong oleh beberapa faktor yang berperan penting dalam mempercepat terjadinya perubahan sosial di Indonesia. Salah satu faktor utama adalah kemajuan teknologi. Whoosh memanfaatkan teknologi transportasi canggih yang memungkinkan perjalanan antara Jakarta dan Bandung menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi waktu, tetapi juga menawarkan kenyamanan dan keamanan yang lebih tinggi dibandingkan moda transportasi lainnya. Kemajuan teknologi ini, pada gilirannya, mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan cara hidup yang lebih modern dan efisien.
Faktor lain yang mendorong perubahan sosial adalah terkait demografis, dimana dalam hal ini adanya kepadatan penduduk dan kebutuhan mobilitas tinggi yang akhirnya bermuara kepada kebutuhan akan peningkatan infrastruktur. Jakarta dan Bandung merupakan dua kota besar dengan tingkat aktivitas ekonomi yang sangat tinggi. Sebagai pusat bisnis dan industri, kedua kota ini memerlukan infrastruktur transportasi yang mampu mengakomodasi mobilitas tinggi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan Whoosh merupakan jawaban terhadap kebutuhan ini, dengan menyediakan alternatif transportasi yang dapat mengurangi beban lalu lintas dan mempercepat distribusi barang serta mobilitas orang. Hal ini tidak hanya mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat konektivitas antarwilayah, yang pada akhirnya berkontribusi pada pembangunan nasional.
Namun, terlepas dari berbagai faktor pendorong, ada beberapa faktor yang dapat menjadi penghambat dalam proses perubahan sosial yang dihasilkan oleh pembangunan Whoosh. Salah satu faktor penghambat adalah pemikiran yang masih tradisional ditambah lagi sumber daya masyarakat yang rendah, dalam hal ini adalah resistensi dari masyarakat lokal.
Pembangunan infrastruktur besar seperti kereta cepat sering kali menghadapi tantangan dari masyarakat setempat yang mungkin merasa terganggu oleh proses pembangunan atau khawatir akan dampak negatif seperti penggusuran lahan atau perubahan lingkungan sosial mereka. Ketidakpuasan ini bisa menjadi hambatan dalam mencapai tujuan perubahan sosial yang diharapkan.
Pembangunan dan pengoperasian Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh membawa serangkaian dampak positif yang signifikan bagi masyarakat dan ekonomi Indonesia. Salah satu dampak paling menonjol adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi kerja, dalam hal ini adalah efisiensi waktu dan mobilitas. Dengan waktu tempuh yang jauh lebih singkat antara Jakarta dan Bandung, masyarakat kini memiliki opsi transportasi yang memungkinkan mereka untuk bepergian lebih cepat, baik untuk urusan bisnis, pekerjaan, maupun rekreasi. Efisiensi ini juga membuka peluang baru bagi bisnis dan industri, memperkuat hubungan ekonomi antar kedua kota, serta mendorong pengembangan wilayah di sepanjang jalur kereta cepat tersebut.
Dampak positif lainnya adalah pengurangan kemacetan lalu lintas di jalur Jakarta-Bandung yang terkenal padat. Dengan lebih banyak orang yang beralih ke kereta cepat, penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya dapat berkurang secara signifikan, yang pada gilirannya mengurangi kemacetan dan polusi udara.
Selain itu, kehadiran Whoosh juga mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan menyediakan transportasi publik yang lebih nyaman, aman, dan efisien. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas infrastruktur dan layanan publik, yang merupakan bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Namun, di samping dampak positif tersebut, pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung juga membawa dampak negatif yang perlu diperhatikan. Salah satu dampak negatif yang mungkin muncul adalah cultural shock, dalam hal ini adalah ketimpangan akses. Meskipun kereta cepat menawarkan kemudahan dan kecepatan, tidak semua lapisan masyarakat mungkin dapat mengaksesnya secara merata.
Harga tiket yang relatif tinggi bisa menjadi kendala bagi masyarakat dengan pendapatan rendah, sehingga manfaat dari kereta cepat ini mungkin lebih banyak dirasakan oleh kalangan menengah ke atas. Ketimpangan akses ini berpotensi memperdalam kesenjangan sosial antara kelompok masyarakat yang mampu dan tidak mampu memanfaatkan layanan ini.
Selain itu, terdapat pula dampak lingkungan yang juga perlu dipertimbangkan. Pembangunan infrastruktur besar seperti kereta cepat sering kali berdampak pada lingkungan sekitarnya, baik selama proses konstruksi maupun setelahnya. Proses pembangunan ini dapat menyebabkan perubahan pada ekosistem lokal, seperti penggusuran lahan hijau, peningkatan polusi suara, dan perubahan pola aliran air.
Meskipun kereta cepat sendiri dianggap sebagai moda transportasi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kendaraan bermotor pribadi, dampak lingkungan jangka panjang dari pembangunan infrastruktur ini harus dikelola dengan baik untuk mengurangi potensi kerusakan lingkungan.
Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi penghambat yang signifikan. Biaya pembangunan dan operasional kereta cepat yang tinggi dapat mempengaruhi aksesibilitas layanan ini bagi seluruh lapisan masyarakat. Jika harga tiket dianggap terlalu mahal, hal ini bisa menyebabkan kereta cepat hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja, yang pada akhirnya dapat menimbulkan ketimpangan sosial. Tantangan finansial ini perlu diatasi agar manfaat dari kereta cepat bisa dirasakan oleh lebih banyak orang dan benar-benar mendukung perubahan sosial yang inklusif.
Mengacu pada penjelasan di atas, terlihat jelas bahwa Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh merupakan contoh konkret dari perubahan sosial yang signifikan di Indonesia. Dengan memadukan teknologi mutakhir dan kebutuhan infrastruktur modern, Whoosh tidak hanya mengatasi masalah mobilitas antara dua kota besar, tetapi juga berperan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial.
Melalui perspektif teori fungsional, dapat diidentifikasi bahwa kehadiran Whoosh membantu sistem sosial beradaptasi dengan tuntutan zaman, menciptakan keseimbangan baru yang lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Meskipun demikian, keberhasilan ini dihadapkan pada berbagai tantangan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk memastikan bahwa pembangunan ini membawa perubahan sosial yang inklusif dan berkelanjutan.




