DORONG DIGITALISASI UMKM, MAHASISWA KKN UNDIP EDUKASI WARUNG DESA DAWUNGAN SOAL QRIS
Sragen, 31 Juli 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Tahun Akademik 2025/2026, Dina Alifda, melaksanakan program edukasi dan pendampingan penggunaan QRIS bagi pelaku UMKM yang bertempat di sejumlah warung di Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, pada Jumat, 31 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja individu bertajuk “Edukasi dan Pendampingan Penggunaan QRIS bagi Pelaku UMKM” yang diinisiasi sebagai respons atas masih dominannya sistem pembayaran tunai di warung-warung desa, sementara semakin banyak pembeli, khususnya generasi muda, yang terbiasa bertransaksi nontunai. Program ini menyasar pelaku usaha kecil di Desa Dawungan agar lebih siap mengadopsi sistem pembayaran digital yang praktis dan aman.
Ditemui di sela kegiatan, Dina menjelaskan alasannya turun langsung mendampingi warung-warung tersebut.
“Saya melihat banyak pelaku usaha kecil di desa ini yang masih mengandalkan uang tunai, padahal sekarang banyak pembeli yang mau bayar nontunai. Makanya saya coba dampingi langsung satu per satu, biar mereka nggak bingung soal cara daftar dan cara pakainya,” ujar Dina saat diwawancarai di sela-sela kegiatan.
Dina mendatangi satu per satu warung dan pelaku usaha di desa tersebut, mulai dari lapak es teh jumbo, siomay, dan cireng milik Mbak Sagita, dua warung kelontong, sampai lapak es cincau bandung milik Mbak Indah. Ia menjelaskan cara mendaftar QRIS, cara menempatkan kode QRIS di lapak dagangan, sampai cara mengecek transaksi yang masuk lewat aplikasi. Dari empat warung yang didatangi, dua di antaranya, yaitu Mbak Sagita dan Mbak Indah, langsung bersedia dibuatkan QRIS, sementara dua lainnya memilih cukup menerima edukasi saja karena usahanya masih kecil dan belum pernah ada pembeli yang menanyakan opsi pembayaran nontunai.
Mbak Sagita dan Mbak Indah mengaku terbantu dengan adanya pendampingan ini.
“Saya berterima kasih karena dengan adanya edukasi ini, sekarang jadi lebih mudah menerima pembayaran secara digital,” ujar Mbak Sagita, penjual es teh jumbo, siomay, dan cireng, usai didampingi membuat QRIS untuk lapaknya.
“Sekarang saya lebih paham cara kerja QRIS dan nggak khawatir lagi kalau ada pembeli yang mau bayar nontunai,” tutur Mbak Indah, penjual es cincau bandung.
Program ini turut mendukung capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs poin 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui perluasan akses keuangan bagi pelaku usaha kecil, SDGs poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui efisiensi transaksi usaha mikro, SDGs poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengenalan teknologi pembayaran digital, SDGs poin 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui perluasan akses layanan keuangan digital, serta SDGs poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku UMKM.
Kegiatan diakhiri dengan penyerahan stiker QRIS secara simbolis kepada Mbak Sagita dan Mbak Indah pada keesokan harinya, Sabtu, 1 Agustus 2026, sebagai tanda kedua warung tersebut resmi dapat menerima pembayaran digital. Sementara itu, dua warung lain yang belum bersedia dibuatkan QRIS tetap antusias bertanya soal cara kerjanya dan menyimpan kontak Dina untuk didampingi di lain waktu.
- Dina Alifda
- Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Diponegoro
- Setuju







