Dari Jelantah Menjadi Rupiah: Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga dengan Sentuhan Wabi-Sabi
Sragen, 11 Agustus 2026 — Minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah rumah tangga ternyata masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi. Melalui program kerja “Dari Jelantah Menjadi Rupiah”, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro mengajak ibu-ibu PKK Desa Tunggul untuk mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 11 Agustus 2026 ini menjadi salah satu bentuk edukasi pemanfaatan limbah rumah tangga sekaligus pemberdayaan masyarakat. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada proses pembuatan lilin aromaterapi, tetapi juga diberikan gambaran mengenai potensi pengembangan produk tersebut menjadi usaha sederhana.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang turut menghubungkan pemanfaatan produk dengan konsep estetika Jepang wabi-sabi. Konsep ini menekankan keindahan dalam kesederhanaan, ketidaksempurnaan, dan karakter alami suatu benda. Penerapannya diperkenalkan melalui gagasan pengemasan lilin aromaterapi dengan tampilan sederhana dan tidak berlebihan.
“Selain mengolah minyak jelantah menjadi produk baru, kami juga ingin memperkenalkan salah satu konsep estetika Jepang, yaitu wabi-sabi. Kesederhanaan dan karakter alami dari konsep tersebut bisa diterapkan dalam tampilan produk, terutama pada bagian kemasannya,” ujar Aulia Octa Ramadhani, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang.
Penerapan wabi-sabi dalam produk lilin aromaterapi diarahkan pada penggunaan desain yang sederhana dengan tetap mempertahankan karakter alami dan nilai dari produk. Dengan demikian, pemanfaatan minyak jelantah tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan budaya Jepang melalui pendekatan estetika.
Ibu Lilis selaku Ibu Lurah Desa Tunggul menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan minyak jelantah yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
“Programnya menarik, karena minyak jelantah yang biasanya sudah tidak terpakai ternyata bisa dimanfaatkan lagi menjadi lilin aromaterapi. Kemasan yang sederhana juga membuat produknya terlihat menarik,” ujar Ibu Lilis.
Selain pengolahan produk, peserta juga diberikan gambaran mengenai perhitungan usaha sederhana. Materi tersebut meliputi biaya produksi, penentuan harga jual, hingga potensi keuntungan dari penjualan lilin aromaterapi. Hal ini diharapkan dapat membantu masyarakat melihat peluang pengembangan produk dari limbah rumah tangga secara lebih terukur.
Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi tidak hanya berpotensi mengurangi limbah rumah tangga, tetapi juga membuka peluang untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Sementara itu, penerapan wabi-sabi memberikan tambahan nilai dari sisi estetika dan pengenalan budaya Jepang.
Melalui program “Dari Jelantah Menjadi Rupiah”, mahasiswa KKN UNDIP berupaya menghubungkan pemanfaatan limbah, peluang ekonomi, dan pengetahuan budaya Jepang dalam satu kegiatan. Minyak jelantah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk baru dengan tampilan sederhana dan bernilai guna.
Dari limbah menjadi produk, dari kesederhanaan menjadi estetika, dan dari jelantah menjadi rupiah.
Credit Line
Penulis: Aulia Octa Ramadhani
Program Studi: Bahasa dan Kebudayaan Jepang
Program Kegiatan: KKN Tim II Universitas Diponegoro 2026 – “Dari Jelantah Menjadi Rupiah”
Lokasi Kegiatan: Desa Tunggul, Kabupaten Sragen
- Aulia Octa Ramadhani
- Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Universitas Diponegoro
- Setuju





