Kenalkan Potensi Batik Pilang, Mahasiswa KKN Undip Susun Artikel Promosi dalam Tiga Bahasa

SRAGEN –Kabupaten Sragen memiliki potensi batik yang terus berkembang, salah satunya di Desa Pilang, Kecamatan Masaran. Di tengah dominasi nama-nama sentra batik seperti Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan, Batik Pilang menyimpan karakter lokal yang layak dikenal lebih luas. Melihat potensi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) mengangkat Batik Pilang melalui pembuatan artikel promosi dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jepang.

Program ini bertujuan memperkenalkan Batik Pilang tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya dan potensi ekonomi masyarakat setempat. Artikel yang disusun mengangkat berbagai aspek, mulai dari proses pembuatan batik, karakteristik motif dan warna, peran UMKM, hingga potensi Desa Pilang sebagai tujuan wisata budaya.

Bagi pelaku usaha batik setempat, penguatan identitas menjadi hal yang penting. Rofiq, salah satu pengusaha batik di Desa Pilang, Batik S.TU JAYA, mengatakan bahwa batik asal Sragen masih kerap disebut sebagai batik Solo ketika memasuki pasar di luar daerah. “Kalau batik dari Sragen masuk pasar, biasanya orang menyebutnya batik Solo. Padahal kami punya ciri dan identitas sendiri,” ujar Rofiq.

Identitas tersebut tercermin melalui karakter Batik Pilang yang mendapat pengaruh tradisi batik Surakarta, namun juga berkembang dengan motif flora dan fauna serta penggunaan warna yang lebih beragam. Perpaduan antara motif tradisional dan inovasi tersebut menjadi salah satu kekayaan lokal yang diangkat dalam artikel, sekaligus menunjukkan bahwa Batik Pilang memiliki karakter tersendiri di tengah perkembangan industri batik Jawa Tengah.

Penggunaan tiga bahasa menjadi bagian penting dari program tersebut. Bahasa Indonesia digunakan untuk memperkenalkan Batik Pilang kepada masyarakat dalam negeri, sementara Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang digunakan untuk membuka akses informasi kepada pembaca internasional. Artikel versi Jepang secara khusus memperkenalkan Batik Pilang sebagai salah satu kekayaan batik Jawa Tengah yang masih belum banyak dikenal dibandingkan sentra batik yang lebih populer.

“Yang kami harapkan bukan hanya batiknya laku, tetapi orang juga tahu bahwa ini batik dari Sragen, khususnya Pilang. Kami ingin punya identitas sendiri dan dikenal karena karya kami,” tutur Rofiq.

Melalui artikel multibahasa tersebut, mahasiswa KKN Tim II Undip berharap potensi Batik Pilang dapat dikenal oleh khalayak yang lebih luas sekaligus membantu memperkuat identitasnya sebagai bagian dari kekayaan budaya Sragen. Bagi para pengrajin, semakin banyak orang mengenal cerita di balik Batik Pilang berarti semakin besar pula kesempatan bagi karya mereka untuk mendapatkan apresiasi.

Penulis: Ella Ramadanti Noventia Dewi – Mahasiswa KKN Undip Tim II Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Fakultas Ilmu Budaya.

  • Ella Ramadanti Noventia Dewi
  • Mahasiswa KKN Undip Tim II Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Fakultas Ilmu Budaya
  • Setuju
Butuh bantuan? Chat kami!