Tekan Budaya Bakar Sampah, Mahasiswa UPGRIS Inisiasi Program Bank Sampah di Lereng Pegunungan Prau

JATENG.NET, Kendal — Kelompok mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang tergabung dalam kegiatan Mahasiswa Mengabdi Desa (Mahesa) resmi meluncurkan program rintisan Bank Sampah di salah satu desa tertinggi di Kabupaten Kendal yaitu Desa Kediten, Kecamatan Plantungan. Mengusung tema besar “Mengabdi Desa, Menyongsong Asa”, program yang dikonversi sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini dilaksanakan selama tiga minggu, mulai dari 22 Juni hingga 13 Juli 2026. Fokus utama gerakan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran dan mengubah kebiasaan menahun masyarakat setempat yang mayoritas masih memusnahkan sampah domestik dengan cara dibakar.

Desa dengan ketinggian sekitar 1.300 mdpl ini menghadapi tantangan klasik pedesaan terkait pengelolaan limbah rumah tangga, minimnya fasilitas tempat penampungan sampah dan belum adanya sistem pengangkutan berkala ke TPA. Akibat keterbatasan ini, membakar sampah menjadi solusi praktis harian bagi warga, meski berdampak buruk pada kualitas udara dan kesehatan pernapasan.

Guna memutus rantai kebiasaan tersebut, kelompok Mahesa Desa Kediten mengambil langkah taktis. Mengingat masa pelaksanaan bertepatan dengan libur sekolah dasar (SD), para mahasiswa membidik lembaga pendidikan keagamaan yang tetap aktif, seperti Madrasah Diniyah (Madin), TPQ, dan tempat-tempat mengaji anak-anak sebagai episentrum gerakan dan pusat sosialisasi yang dilaksanakan pada 29 Juni hingga 2 Juli 2026. Alih-alih menunggu di posko, mahasiswa lebih memilih jemput bola ke tempat-tempat keagamaan yang tersebar di 4 Dusun Desa Kediten, Dusun Doplang, Dusun Krajan, Dusun Kenteng, dan Dusun Bukitsari demi pemerataan sosialisasi kesadaran membuang sampah.

Mahasiswa bertekad mewujudkan Desa Kediten yang bersih, sehat, dan bebas dari polusi asap sampah melalui kemandirian pengelolaan limbah masyarakat, membangun kesadaran dan kepedulian lingkungan sejak dini pada generasi muda Desa Kediten, dan mengedukasi teknik pemilahan sampah organik dan anorganik secara mandiri. Selain itu, tujuan utama dari program ini adalah untuk mengubah mindset generasi muda agar tidak lagi membakar sampah plastik, melainkan mengumpulkannya secara produktif ke Bank Sampah, sekaligus menanamkan kesadaran serupa dikeluarga mereka masing-masing.

Pelaksanaan program ini mendapat dukungan penuh dari berbagai elemen desa. Acara sosialisasi dan peluncuran gerakan dihadiri langsung oleh Kepala Madrasah Diniyah, para pengasuh TPQ, ustaz dan ustazah pengajar ngaji, tokoh masyarakat, serta perwakilan perangkat Desa Kediten.

Edukasi dikemas secara interaktif menggunakan analogi sederhana yang dekat dengan dunia anak-anak, mengaitkan kewajiban menjaga alam dengan nilai-nilai agama, serta melakukan simulasi langsung memilah sampah menggunakan tempat sampah berwarna. Anak-anak tampak sangat antusias mengikuti setiap sesi dan mulai aktif membawa sampah plastik kering dari rumah untuk dikumpulkan ke sistem tabungan sampah yang disediakan mahasiswa.

Ke depan, kelompok Mahesa UPGRIS menaruh harapan besar agar sistem Bank Sampah yang sudah dirintis di lingkungan TPQ dan Madin ini tidak berhenti saat mahasiswa berpisah pada 13 Juli 2026 nanti. Harapannya, pengurus lembaga keagamaan bersama pemuda desa setempat dapat meneruskan estafet manajemen Bank Sampah ini dan membangun kerja sama dengan TPA terdekat. Dengan begitu, Desa Kediten dapat bertransformasi menjadi desa yang lebih bersih, sehat, dan sepenuhnya bebas dari kepulan asap pembakaran sampah.