Cari Kerja Makin Susah, Manusia Dinilai Tak Siap Hadapi Era Baru

Cari Kerja Makin Susah, Manusia Dinilai Tak Siap Hadapi Era Baru

Ukuran Teks:

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah struktur pasar kerja secara besar besaran. Teknologi otomatisasi mulai menggantikan pekerjaan rutin dan repetitif, tetapi disaat yang sama muncul kebutuhan tenaga kerja baru yang memiliki keterampilan digital dan penguasaan teknologi. Data BPS mencatat 7,46 juta penganggur terbuka per Agustus 2025, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia 15-24 tahun mencapai 16,89 persen. Kondisi ini semakin berat karena 52,32 persen angkatan kerja Indonesia masih lulusan SMP ke bawah, kelompok yang paling terdampak terhadap otomatisasi.

Di Indonesia, banyak lulusan perguruan tinggi mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan karena kemampuan mereka masih terlalu teoritis dan belum sesuai kebutuhan industri seperti data analisis, coding, AI tools, dan digital marketing. Akibatnya, banyak sarjana bekerja di luar bidang pendidikan mereka bahkan menjadi pekerja informal seperti admin online shop, freelancer, atau ojek online. Dampak kondisi ini tidak hanya meningkatkan pengangguran dan persaingan kerja, tetapi juga memunculkan kesenjangan antara tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang tertinggal. Sebagai contoh, sejumlah perusahaan teknologi global melakukan restrukturisasi tenaga kerja sebagai respon terhadap perubahan strategi perkembangan teknologi yang semakin cepat. Perusahaan tersebut meningkatkan investasi dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional, produktivitas, dan daya saing di pasar global.

Fenomena ini didukung oleh Teori Human Capital oleh Gary Becker yang dimana berpendapat bahwa pendidikan dan keterampilan merupakan investasi penting untuk meningkatkan produktivitas dan peluang kerja. Dalam era AI, kualitas tenaga kerja tidak lagi hanya diukur dari kemampuan fisik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan penguasaan teknologi digital. Kondisi ini menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan dan pelatihan agar mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk mengatasinya, pemerintah perlu membangun Labour Market Information System (LMIS) berbasis data real-time yang menghubungkan lulusan dengan kebutuhan industri.

Pada akhirnya, tantangan utama Indonesia bukanlah menghadapi keberadaan kecerdasan buatan (AI), melainkan mempersiapkan sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang dibawanya. Oleh karena itu, sistem pendidikan dan pelatihan harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin berbasis teknologi dan keterampilan. Tanpa upaya tersebut, kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan industri yang semakin melebar, sehingga lulusan yang memiliki ijazah belum tentu memiliki kemampuan yang dibutuhkan pada dunia kerja. Semakin kualitas sumber daya manusia meningkat yang meningkat menjadi modal besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing di era AI.

Nama Penulis : Faishal Kamal, Lintang Ratu Wastika, Hendra Dwi Winata, Dr. Dyah Maya Nihayah, S.E., M.Si., Retno Febriyastuti Widyawati, S.E., M.Si.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan