Mahasiswa melaksanakan program kerja monodisiplin berupa pendampingan dan pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB).
Desa Ngadirejo, Kabupaten Karanganyar, (06/08/2024) - Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Desa Ngadirejo, Mojogedang, Karanganyar telah melaksanakan program kerja monodisiplin berupa pendampingan dan pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pelaku UMKM di Desa Ngadirejo yang dilaksanakan oleh Mohammad Iqbal Atfani, mahasiswa S1 Program Studi Hukum.
Program kerja ini dilatarbelakangi dengan banyaknya UMKM yang belum memiliki kesadaran hukum akan pentingnya kepemilikan NIB bagi pelaku UMKM. Dalam pelaksanaannya, program ditujukan kepada salah satu UMKM yakni Arkana Lele. Usaha yang berfokus pada pembesaran ikan lele ini merupakan usaha yang dimiliki oleh Bapak Sukarno yang telah berjalan lebih dari 10 tahun.
Nomor Induk Berusaha (NIB) merupakan nomor identitas pelaku usaha sesuai bidang usaha sebagaimana diatur dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) tahun 2020 yang dibedakan menurut jenis aktivitas ekonomi yang menghasilkan output alias produk, baik barang maupun jasa. Dewasa ini, proses pembuatan NIB telah disederhanakan dengan adanya perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau online single submission (OSS).
Sistem OSS bertujuan mempermudah para pengusaha dalam mendapat legalitas yang berguna untuk menjalankan kegiatan usahanya serta mengurangi masalah birokrasi atas pengurusan perizinan yang kerap kali menyita banyak waktu dan berbelit-belit. Melalui sistem yang diluncurkan sejak 2017 ini, NIB yang menjadi salah satu perizinan wajib bagi para pelaku UMKM bisa didapatkan secara daring dengan tahapan yang mudah dilalui.
“Sebelumnya saya sudah pernah mengajukan pembuatan Nomor Induk Berusaha kepada pihak terkait, namun prosesnya yang terlalu panjang dan diperlukan biaya yang lumayan besar”, Ungkap Ibu Reki.
Berangkat dari hal tersebut, program pendampingan dan pendaftaran NIB bagi pelaku UMKM bertujuan agar pelaku UMKM mendapatkan kepastian hukum dalam berusaha dengan lebih mudah dan sekaligus dapat melakukan pendataan bagi para pelaku UMKM. Pendampingan hukum dilaksanakan dengan sistem door to door karena kurangnya minat pelaku UMKM untuk melakukan pendaftaran NIB. Dengan sistem tersebut dinilai lebih efektif karena lebih dekat dengan pada sasaran utama kegiatan yaitu pelaku UMKM di Desa Ngadirejo.
(Poster petunjuk teknis pendaftaran NIB)
Rendahnya kesadaran akan pentingnya kepemilikan NIB disebabkan oleh ketidaktahuan dan masih kurangnya sosialisasi terkait pentingnya NIB bagi pelaku UMKM. Mohammad Iqbal Atfani mengungkapkan bahwa, “Dengan terlaksananya program pendampingan dan bantuan pendaftaran tersebut, diharapkan dapat menjadi contoh bagi UMKM lain di Desa Ngadirejo terhadap pentingnya kesadaran hukum terkait pentingnya pendaftaran IUMK bagi pelaku UMKM”.
Melalui program monodisplin yang digagas oleh Mohammad Iqbal Atfani ini, diharapkan mampu menjadi wadah bagi KKN Tim II Universitas Diponegoro Desa Ngadirejo untuk terjun langsung ke masyarakat untuk mengatasi permasalahan yang ada sekaligus dapat memperdayakan potensi Desa Ngadirejo. Dengan adanya kepemilikan NIB bagi pelaku UMKM di Desa Ngadirejo, pelaku UMKM mampu mengoptimalkan potensi usaha deangan lebih baik dan keberlanjutan.
Penulis: Mohammad Iqbal Atfani
Nomor Induk Berusaha (NIB) merupakan nomor identitas pelaku usaha sesuai bidang usaha sebagaimana diatur dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) tahun 2020 yang dibedakan menurut jenis aktivitas ekonomi yang menghasilkan output alias produk, baik barang maupun jasa. Dewasa ini, proses pembuatan NIB telah disederhanakan dengan adanya perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau online single submission (OSS).
Sistem OSS bertujuan mempermudah para pengusaha dalam mendapat legalitas yang berguna untuk menjalankan kegiatan usahanya serta mengurangi masalah birokrasi atas pengurusan perizinan yang kerap kali menyita banyak waktu dan berbelit-belit. Melalui sistem yang diluncurkan sejak 2017 ini, NIB yang menjadi salah satu perizinan wajib bagi para pelaku UMKM bisa didapatkan secara daring dengan tahapan yang mudah dilalui.
“Sebelumnya saya sudah pernah mengajukan pembuatan Nomor Induk Berusaha kepada pihak terkait, namun prosesnya yang terlalu panjang dan diperlukan biaya yang lumayan besar”, Ungkap Ibu Reki.
Berangkat dari hal tersebut, program pendampingan dan pendaftaran NIB bagi pelaku UMKM bertujuan agar pelaku UMKM mendapatkan kepastian hukum dalam berusaha dengan lebih mudah dan sekaligus dapat melakukan pendataan bagi para pelaku UMKM. Pendampingan hukum dilaksanakan dengan sistem door to door karena kurangnya minat pelaku UMKM untuk melakukan pendaftaran NIB. Dengan sistem tersebut dinilai lebih efektif karena lebih dekat dengan pada sasaran utama kegiatan yaitu pelaku UMKM di Desa Ngadirejo.
(Poster petunjuk teknis pendaftaran NIB)
Rendahnya kesadaran akan pentingnya kepemilikan NIB disebabkan oleh ketidaktahuan dan masih kurangnya sosialisasi terkait pentingnya NIB bagi pelaku UMKM. Mohammad Iqbal Atfani mengungkapkan bahwa, “Dengan terlaksananya program pendampingan dan bantuan pendaftaran tersebut, diharapkan dapat menjadi contoh bagi UMKM lain di Desa Ngadirejo terhadap pentingnya kesadaran hukum terkait pentingnya pendaftaran IUMK bagi pelaku UMKM”.
Melalui program monodisplin yang digagas oleh Mohammad Iqbal Atfani ini, diharapkan mampu menjadi wadah bagi KKN Tim II Universitas Diponegoro Desa Ngadirejo untuk terjun langsung ke masyarakat untuk mengatasi permasalahan yang ada sekaligus dapat memperdayakan potensi Desa Ngadirejo. Dengan adanya kepemilikan NIB bagi pelaku UMKM di Desa Ngadirejo, pelaku UMKM mampu mengoptimalkan potensi usaha deangan lebih baik dan keberlanjutan.
Penulis: Mohammad Iqbal Atfani
Editor: Anggi Putri